Skip to content Skip to navigation

Komunikasi Ilmiah-Keilmuan IP&I

asubhan's picture
Ada tiga frasa dalam bahasa Inggris yang tak mudah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
  1. Scholarly communication.
  2. Scientific communication.
  3. Science communication.
Apalagi nomer 1 dan 2 yang 11-12 maknanya.
Sedangkan saya bermaksud menggunakan satu frasa dalam bahasa Indonesia yang dapat mewakili ketiga frasa asing tersebut.
Mungkin karena kemaruk, maka jadilah judul yang tumpang-tindih di atas.
Itulah tema yang saya karang setelah mendengar, membaca, dan memirsa rekaman diskusi di ruang teatrikal Perpustakaan UIN Jogja medio Maret lalu.



Ajang tukar pendapat antarilmuwan IP&I secara lisan itu menjadi “talk show” bagi publik IP&I (mahasiswa, praktisi, akademisi). Begitulah, komunikasi lisan dan tulisan sejatinya dapat saling memperkuat, tak saling meniadakan.
***
Bagaimanakah komunikasi antara para cendekiawan IP&I itu berlangsung?
Mari mulai dari tulisan Sulistyo Basuki (SB) yang berjudul “Keilmuan Bidang Informasi dan Perpustakaan”.
Dalam tulisan itu SB mengajukan tiga per-nyata-an sekaligus per-tanya-an:



Tiga pernyataan/pertanyaan itu bisa dibolak-balik.
Ontologi adalah (?) Apa yang dikaji oleh pengetahuan.
Epistemologi adalah (?) Bagaimana caranya memanfaatkan pengetahuan.
Aksiologi adalah (?) Untuk apa pengetahuan digunakan.
Jika memenuhi tiga pokok persoalan Filsafat Ilmu itu, maka suatu pengetahuan absah menjadi sebuah ILMU.
***
Sepembacaan saya, Putu Laxman Pendit (PLP) adalah komentator terbaik terhadap tiga pertanyaan/penyataan SB tersebut.
Karena, sejauh ini saya (baru) menemukan PLP yang berusaha secara serius (tapi santai) mencari jawaban atas tiga persoalan filosofis itu.
Narasi tentang komunikasi cendekia antara SB dan PLP perihal landasan filosofis itulah yang menjadi bingkai catatan ini.
Khususnya, perihal Ontologi atau apa yang menjadi objek kajian IP&I di Indonesia.
Pustaka sebagai Ontologi

“Saya akan mulai dengan satu kata yang bikin rancu, yaitu: per-pustaka-an.”

“Kata ini menyebabkan begitu banyak kebingungan, sebab tidak pernah ada kajian oleh kita sendiri tentang makna kata itu.”

“Kita cenderung mengatakan perpustakaan adalah terjemahan dari library.”

Demikian ujar Putu Pendit.
(Sila simak lewat rekaman videonya: 1:07:01 - 1:07:29)
Jadi, persoalan ontologis IP&I di Indonesia, selama ini, sesungguhnya ada di depan mata kita, yakni kata “per-pustaka-an”.
Sesederhana sekaligus serumit itulah persoalan Ontologi IP&I kita.
***
Sekarang, mari kaitkan pendapat SB dengan PLP.
SB berpendapat bahwa apa yang menjadi objek kajian Ilmu Perpustakaan adalah “perpustakaan”. Karena itulah terjemahan kata “library”. Begitulah yang terbaca dalam kutipan di bawah ini.
“Bila ada objek yang akan diteliti (dalam hal ini perpustakaan) maka tentunya ada ilmu yang mengaji objek tersebut ataupun dapat dikembangkan ilmu baru yang mengkaji objek tersebut. Dengan demikian dapat dikem­bangkan ilmu yang khusus mengkaji perpustakaan. Dalam kalangan pustakawan ilmu yang mengkaji perpustakaan ini disebut Ilmu Perpustakaan, dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Library Science ataupun Library Studies. Dalam bahasa lain disebut Bibliothekwetenschap maupun Bibliothekwissenschaft.”[1]
Jika pembacaan kita sama, kita dapat bersepakat dalam kesimpulan (sementara) bahwa SB menganggap “perpustakaan” adalah ontologi, alias, apa (objek) yang dikaji oleh (pengetahuan bernama) Ilmu Perpustakaan.
***
Berbeda dengan SB, PLP tak serta-merta menerjemahkan “library” menjadi “perpustakaan” serta menganggap itulah Ontologi Ilmu Perpustakaan di Indonesia.
PLP terlebih dahulu mempersoalkan perihal bagaimana menafsirkan kata “library” itu.
Satu acuan dalam makalahnya menunjukkan alasan untuk mempersoalkan itu.
Yaitu, lagi-lagi berupa pernyataan/pertanyaan, dari Archie L. Dick dalam kutipan di bawah ini.[2]



"... kita dapat melihat bahwa apa yang disinyalir nyaris dua dekade yang lalu oleh Dick (1999) masih berlaku saat ini. Ia mengatakan bahwa kita sering secara tidak sadar memisahkan antara apa yang dilakukan pustakawan (what librarians do) dengan apa itu (makna) dari perpustakaan (what libraries mean). Pendit, Putu Laxman. http://digilib.uin-suka.ac.id/29641/. hlm. 4.


Itulah mengapa PLP memilih menelusuri terlebih dahulu makna kata “library” dalam konteks ke-Indonesia-an.
Penelusuran PLP mulai sejak kata dasar “per-pustaka-an”, yakni “pustaka”.
Masuk akal adanya. Mengingat kata “perpustakaan” merupakan kata ‘baru’ di Indonesia.
Kata “perpustakaan” muncul secara resmi ketika pemerintah di negara (yang baru merdeka) ini membentuk sebuah unit kerja bernama “Biro Perpustakaan” pada tahun 1951.[3]

“Sejak itulah semua yang berhubungan dengan urusan pustaka disebut ‘perpustakaan’, termasuk institusinya, padahal sebelumnya namanya ‘taman poestaka’.”

(PLP. 1:18:34 - 1:18:44)
Lihat (lagi) pernyataan di atas.
PLP menyandingkan “perpustakaan” dengan “urusan pustaka”.
Itu berarti, makna “perpustakaan” dianggap sebangun dengan “urusan pustaka”.
Jika kata “urusan” dalam konteks birokrasi adalah:



Dan kata “pustaka” dibatasi sebagai:



Klop, lah, dengan asal-usul pembentukan kata perpustakaan yang awalnya bernama “biro perpustakaan”. Sebuah nama yang merujuk pada suatu lembaga/kantor/instansi yang mengurus pustaka.[4]
Maka jadilah perpustakaan sebagaimana yang dibakukan di bawah ini.



Tak mengherankan, bukan, jika orang-kebanyakan membaca atau mendengar kata perpustakaan, maka persepsi yang muncul di benak mereka adalah sebuah tempat/ruang/bangunan pada suatu lembaga/kantor yang mengurusi buku-buku (?)



"Dengan demikian, batasan perpustakaan ialah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual." Sulistyo-Basuki. 1991. "Pengantar Ilmu Perpustakaan". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 3.


***
“Bukan, bukan itu.”
Mungkin begitu pikir PLP saat menggali makna kata “pustaka”.
PLP tak mengawalinya dari kamus-kamus.
Ia mulai dengan kajian menggunakan perkakas etimologi serta pendekatan historis-kontekstual.[5]
Ia gali makna “pustaka” di tanah Indonesia ketika masih disebut Hindia Belanda dan Nusantara.
Penggalian itu menemukan jejak makna kata “pustaka” yang bersambungan dengan aliran peradaban dari Lembah Hindustan, sampai akhirnya tiba di dataran Iran yang dahulu kala ada dalam suatu kawasan bernama Mesopotamia --tempat lahir moyangnya tulisan serta kajian “Literasi Ideologis”.
Jejak-jejak petualangan dalam pikiran itu terekam dalam serial tulisan “Mengapa Kita Menggunakan Kata ‘pustaka’?” yang PLP olah lebih lanjut kemudian ISIPII terbitkan sebagai buku berjudul “Pustaka dan Kebangsaan”.[6]


 


 

“Jadi, ada maksud dan makna tertentu dalam kata pustaka yang baru saya mengerti, rupanya itulah terjemahan dari library.”

(PLP. 1:10:50 - 1:11:00)
Coba bayangkan PLP melonjak sembari berseru “Eureka!”, atau, “Pustaka!”, dengan ilustrasi lampu pijar di atas kepala.



Kata "perpustakaan" dalam IP&I mengandung di dalamnya kata "pustaka" dan sesungguhnya inilah objek kajiannya, bukan perpustakaan. Pendit, Putu Laxman. http://digilib.uin-suka.ac.id/29641/. hlm. 6.


 

“Karena pustaka itu ternyata berarti sebuah himpunan, himpunan dan sebuah sarana, yang tidak merujuk ke bentuk. Lontar boleh, batu boleh, kertas. Yang penting itu adalah sebuah himpunan pengetahuan.”

(1:10:13 - 1:10:34)

“Jadi, sama sekali tidak benar bahwa Ilmu Perpustakaan itu mengkaji perpustakaan. Nggak bener. Yang benar adalah justru mengkaji pustaka.”

“Dan pustaka itu adalah sebuah sarana dan himpunan pengetahuan untuk praktik-praktik berpengetahuan.”

“Jadi urusannya adalah bukan buku. Tapi, bagaimana masyarakat secara kesatuan berpengetahuan.”

(PLP. 1:11:14 - 1:11:42)

“Maka saya usulkan ... bagaimana kalau ontologi kita adalah pustaka.”

“Sebab dengan mengatakan itu adalah ontologi, terjawab semua, kenapa nggak dokumen, kenapa nggak record ... karena semua itu pustaka.”

“Kata dokumen, kata arsip, kata record, datang belakangan. Yang pertama kita punya adalah pustaka.”

(PLP. 2:48:43 - 2:49:16)
***
Memangnya kenapa kalau “perpustakaan” menjadi Ontologi IP&I?

“Kalau yang kita kaji adalah perpustakaan atau urusan tentang pustaka, ya nggak heran kalau orang bilang, ‘Ngapain kalau urusan doang kamu sampai bikin ilmu? Nggak usah pakai ilmu aja deh, karena perpustakaan cukup, D3 cukup!’”

(PLP. 1:19:29 - 1:19:44)
Barangkali seperti itulah (salah satu) jawaban PLP bila ada yang mengajukan pertanyaan di atas.
Jawaban itu berkaitan dengan what librarians do dan what libraries mean yang PLP acu.
Pengalaman menunjukkan bahwa menganggap “perpustakaan” sebagai ontologi telah menggiring praktisi dan akademisi bidang ini lebih berkutat pada what librarians do, seputar persoalan teknis-administratif di kantor urusan pustaka.[7]
Secara tak langsung, pernyataan Ida F. Priyanto di bawah ini sejurusan dengan pendapat tersebut.

“... pendidikan kita itu masih terlalu fokus kepada setting, setting perpustakaan tadi. Ini yang menjadi persoalan. Kita belum keluar dari situ. Rata-rata membahas tentang klasifikasi, katalogisasi, layanan perpustakaan ... itu saja, setting-nya itu ke situ ...”

(IFP. 2:55:19 - 2:55:39)
Kendati agak melenceng dari konteks munculnya pernyataan itu dalam dinamika diskusi, kita juga dapat menempatkan pernyataan IFP itu dalam bingkai pembicaraan ini.
Bahwa kecenderungan pada setting perpustakaan, atau pengondisian cara pandang sebatas ruang; itulah yang memunculkan persepsi pada khalayak luas, masyarakat akademik, serta pembuat kebijakan bahwa profesi pustakawan tak memiliki landasan keilmuan yang kuat.
Cukup dengan pelatihan serta penerapan pedoman-pedoman teknis serta manajerial, maka:
Abrakadabra!
Jadilah seseorang sebagai pustakawan.
***
Lantas, apakah kecenderungan itu akan berubah bila kita menyepakati “pustaka” sebagai ontologi IP&I di Indonesia?
Saya tidak tahu.
Bisa-iya bisa-tidak bukanlah jawaban yang memuaskan.
Saya kira jawaban untuk pertanyaan itu adalah pembuktian terlebih dahulu.
***
Apabila kita menerjemahkan library sebagai pustaka, apakah itu berarti kita tak lagi menggunakan kata perpustakaan?
Saya kira tidak.
Perpustakaan sebagai nama lembaga akan bertahan.
Tentu sangat merepotkan bila semua perpustakaan di Indonesia harus menghapus atau mengganti kata “perpustakaan” pada plang nama, kop surat, label buku, hingga stempel, kan?
Perubahan terjemahan library menjadi pustaka, sementara ini, berlaku pada tataran objek kajian (ontologi).
Ketidaktepatan penerjemahan library menjadi perpustakaan sebagai objek kajian itulah yang selama ini menimbulkan kerancuan dan kebingungan, sebagaimana PLP ungkap di atas.

“Jadi, lost in translation. Ketika kita menerjemahkan sebuah kata, kita kehilangan maknanya.”

(PLP. 2:43:12 - 2:43:12)
Persoalan semacam itulah yang saya hadapi ketika berusaha menerjemahkan tiga frasa pada pembukaan catatan ini.
***
Sekarang, mari periksa kembali definisi Ilmu Perpustakaan yang diajukan Sulistyo Basuki di bawah ini.
“Pada ancangan kedua yang dikaji ialah objeknya, dalam hal ini perpustakaan. Maka objek material dalam Ilmu Perpustakaan adalah rekaman informasi yang merupakan koleksi perpustakaan.”[8]
Barangkali inilah pernyataan yang menimbulkan kerancuan itu.
SB seolah-olah mengajukan dua objek kajian. Pertama adalah perpustakaan, dan yang kedua adalah rekaman informasi yang merupakan koleksi perpustakaan.
Untuk yang pertama, sudah dikomentari panjang lebar di atas.
Sedangkan yang kedua, sepembacaan saya, sebetulnya berpadanan dengan pendapat PLP perihal pustaka.
Sebab, secara material, pustaka itu juga berwujud rekaman informasi yang menjadi koleksi perpustakaan.
Dengan demikian, berdasarkan sudut pandang PLP, SB tak sepenuhnya keliru.
Ada (sebagian) kebenaran dalam pendapat SB mengenai ontologi Ilmu Perpustakaan, atau objek material kajiannya, yang berupa rekaman informasi. Sedangkan PLP menggunakan istilah himpunan pengetahuan.
***
Forum diskusi di Jogja telah menjadi ajang komunikasi cendekia di antara ilmuwan kita perihal landasan ontologis IP&I.
Mereka secara bersama-sama telah semakin memperjelas fondasi keilmuan kita.
Alih-alih saling meruntuhkan, mereka justru saling memperkuat landasan keilmuan IP&I di Indonesia.
###
[1] Sulistyo-Basuki. “Keilmuan Bidang Informasi dan Perpustakaan”. https://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/03/30/keilmuan-bidang-informasi-dan-perpustakaan-2/. Cetak tebal oleh saya.
[2] Dick, Archie L., “Epistemological Positions and Library and Information Science,” The Library Quarterly 69, no. 3 (Jul., 1999): 305-323. https://doi.org/10.1086/603091.
Bagi yang tak punya akses ke jurnal berbayar, sila akses tulisan lain namun memuat persoalan serupa dari Dick, 2013, berjudul “Why epistemology matters” lewat: https://repository.up.ac.za/handle/2263/40158.
[3] Sulistyo-Basuki. 2008. “Sejarah Perpustakaan Nasional RI. Sebuah Kajian”. http://kelembagaan.perpusnas.go.id/Digital_Docs/pdf/about_us/histories/normal/HASIL_KAJIAN_SEJARAH_PERPUSNAS_RI.PDF. hlm. 34 & 37.
[4] Bandingkan dengan kata bentukan “pengkajian” untuk nama salah satu instansi pemerintah dalam bidang pengembangan teknologi. Eko Endarmoko. 2017. “Mengaji dan Mengkaji”. https://beritagar.id/artikel/tabik/mengaji-dan-mengkaji.
[5] Pendit, Putu Laxman. 2018. “Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Sebuah Tinjauan Ringkas tentang Aspek Ontologi dan Epistemologi dalam Konteks Indonesia”. http://digilib.uin-suka.ac.id/29641/. hlm. 5-12.
[6] Sila lihat catatan saya perihal buku itu: Pustaka dan Kebangsaan #1, #2, & #3.
[7] Lihat catatan PLP berjudul “Birokratisasi Pustaka” yang menyoroti dampak buruk pergeseran makna kata “pustaka” menjadi “perpustakaan”. Lihat juga hasil kajian kritis PLP yang memopulerkan julukan “pustakawan pelat-merah” di Indonesia: Profesionalisme Pustakawan Pelat-Merah: Analisa kritis tentang hubungan antara Ikatan Pustakawan Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
[8] Sulistyo-Basuki. Ibid. Cetak tebal oleh saya.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.